Jumat, 17 Februari 2012

Berwisata ke Pantai Prigi dan Guo Lowo

Rencana jalan-jalan ini sudah digagas sejak dua hari sebelum hari H, tanggal 3 Januari 2011. Saat itu, beberapa personel dari imalita sedang silaturahim di rumah Mbah Din, Talun, usai takziyah meninggalnya ibu Saudara kita Zaki Nam. Semoga Alloh memberikan rahmat dan maghfiroh kepada beliau.
Akhirnya, pada hari Kamis, 5 Januari 2012 kami berangkat menjalankan rencana. Dari Blitar berangkat sekitar pukul 11.00, setelah muter-muter menjemput rekan-rekan raja dan ratu Imalita. Rahmat Gumawang, sebagai yang empunya mobil sekaligus yang nyopir berangkat dari villanya di Bendosari Village bersama dengan Desinta. Aku nunggu di pertigaan X-Kol. Habis itu njemput Mila, di tempat biasa. Ya di avenue utara rumahnya. Setelah Mila terangkut, giliran Enny, di Tanggung. Kemudian jemput Adit di Sananwetan. Waduh, pokoknya muter-muter deh. Setelah selesai menaikkan penumpang di wilayah kota Blitar, mobil pun meluncur ke selatan, keluar kota. Di daerah Plosoarang utara Kali Brantas, masih ada Farhan yang akan naik. Di tempat naiknya Farhan ini, kira-kira  jam 11.00.
Dari tempat farhan, kami langsung menuju ke obyek. Kami harus melewati Kabupaten Tulungagung sebelum bisa sampai di Trenggalek, tempat obyek yang akan kami kunjungi. Di perjalanan, sempat beberapa kali hujan dengan intensitas cukup deras. Kami sempat menggerutu, namun kembali ber-possitive thinking. Biasa lah, kata Jamilah anak-anak angkatan kami tuh jadi semakin bijak setelah mendapat tempaan dalam ketidakpastian selam 3 bulan berjalan ini. Huffh…
Jam 12.05, kami sudah memasuki jalan pegunungan di daerah Tulungagung Selatan. Di derah itu, ada papan petunjuk yang menyesatkan. Akhirnya karena mobil melaju kencang, kami jadi salah jalur karena tidak bisa membaca papan petunjuk dengan jelas. Waktu itu ada jalan persimpangan. Satu naik, dan satunya turun. Tujuan Prigi seharusnya nturun, tapi kami malah naik. Setelah cari space untuk putar mobil, eh malah ketemu masjid yang besar, termasuk dalam wilayah Watulimo. Jadi kami bisa solat Dzuhur dulu. Ternyata, ada hikmahnya ya…
Usai sholat, kami lanjutkan kembali perjalanan. Dari masjid tempat kami sholat ini, masih perlu waktu sekitar 20 menit untuk sampai di pantai Prigi. Sampai di Pantai, rahmat langsung menuju pinggir pantai. Kami melewati portal masuk, ternyata tidak ada yang menjaganya. Semuanya sangat gembira dengan hal ini. Tapi sayang, ternyata kondisinya sudah berubah. Mobil tidak bisa parkir di bibir pantai. Akhirnya mobil putar dan masuk ke kawasan parkir. Di sini, ternyata ada petugasnya. Keceriaan yang tadi jadi hilang, pasalnya harus membayar Rp6.000 per orang, dan parkir mobil Rp5000. Huffh..
Pantai Prigi
Pantai Prigi menurutku cukup indah. Ombaknya cukup besar. Pantainya panjang, dengan daratan yang luas. Namun, bibir pantainya agak curam. Di bagian laut sebelum lepas pantai, ada bukit-bikit kecil yang indah, pas banget buat foto profil picture. Menurut pribadiku, pemandangan yang bagus ada di bagian barat, di lokasi perkebunan kelapa. Di sana terlihat pohon kelapa berderat rapi di pinggir pantai. Subhanallah…
Kami mencoba merasakan riak ombak pantai selatan ini. Kemudian berjalan menyusuri pantai ke arah timur, di tempat sandar kapal nelayan. Di dekat parkiran perahu, ada dua bangunan kecil seperti gardu Ronda bertuliskan alat deteksi tsunami milik Bakosurtanal, jangan diganggu. Teman-teman pada heboh dengan tulisan itu. Lalu kami berjalan ke tengah dermaga kapal ini lewat jalan yang dibuat seperti anjungan. Di sini suasananya sangat menyenangkan sekali, sampai kami menghabiskan hampir setengah jam duduk-duduk menikmati keindahan. Pastinya kami tak lupa sebuah ritual wajib, yaitu foto-foto. Tapi sayang,$20kamera adiknya Rahmat entah kenapa tidak bisa dipakai. Sedangkan kamera Imalita masih dikuasai ahmed. Jadi kami Cuma berfoto seadanya dengan kamera Hp.
Setelah puas berkeliling, saatnya shopping. Saat itu kami beli ikan tuna asap dengan harga Rp5000 per kepit, sedangkan aku juga membeli teri yang dijual Rp2.500,00 per kemasan. Kalau gurita, harganya Rp22.000,00 per Kg. Menurutku harga ikannya sangat murah, separuh harga bahkan kurang dari itu jika di bandingkan dengan harga di Blitar. Puas belanja, kami kembali ke mobil untuk melanjutkan next object.
Guwo Lowo
The next object adalah Goa lawa. Sampai di sana sekitar pukul 15.45 WIB. HTMnya sama dengan di pantai, yaitu Rp6.000,00 per kepala. Objek ini dibuka dari pukul 07.00 s.d. 17.30 WIB. Setelah sholat ashar di musholla depan objek ini, kami masuk ke tempat wisata tersebut. Pintu masuk obyek berupa jembatan gantung dengan pemandangan sungai yang menawan, sungai yang jernis dengan batu cadas yang besar-besar. Di sini, kami disambut dengan tembang Jawa “Aja Lamis” yang diaransemen Bossanova. Hmm, syahdu.  
Dekat pintu masuk, kita akan disambut dengan patung manusia bertubuh keleawar, yang bertuliskan sri ratu lowo. Selanjutnya di kanan kiri jalan juga banyak di temui patung-patung sejenis ini, dan batu-batu yang memiliki sebuah wujud tertentu, salah satunya wujud kura-kura. Untuk mencapai mulut gua, kita harus naik tangga dulu, kemudian turun dengan kondisi turunan yang tajam. Bagi yang jarang banget hiking atau minimal jogging, akan sangat ngos-ngosan. Bahkan saat itu kami dengar ada pengunjung yang mengatakan “wah, bobotku bisa berkurang 5 Kg nih”. Namun, bagi yang biasa jogging, tracknya sangat biasa dan pendek. Nggak terlalu berat pokoknya.
Kondisi dalam gua cukup indah, nggak sia-sia dengan HTM yang harus kami bayar. Ada banyak stalagtit dan stalgmit yang berukiran khas, dan ada pula yang berukirkan seperti sesuatu. Ada yang halus, ada yang seperti karang, ada yang seperti egg tray (jawa: etre endog). Kalau yang mirip sesuatu, di sana ada tulisannya. Salah satunya batu telunjuk, karena mirip dengan telunjuk. Tapi, ada satu batu yang belum dinamai, ini yang menemukan Rahmat. Katanya batu yang ia lihat mirip ANUnya. Dan memang benar, kondisinya seperti itu. Hahaha… Puas dari gua, kami beranjak pulang setelah shopping salak di sepanjang jalan keluar. Salak pondoh di sini harganya Rp3.000,00 per Kg.
Di perjalanan pulang, kami disuguhi pemandangan eksotis. Lengkungan nidji, alias kuwung alias pelangi di langit Tulungagung. Subhanalloh, hari yang indah. Setelah itu, kami mampir sholat maghrib di masjid KUA Sumbergempol. Jadi ingat dulu waktu main ke Doko, sholat Dhuhurnya juga di masjid KUA, ternyata ada yang jadian nikah, yaitu Mas Imam Sholikin dan Mbak Siska Maharani. Sekarang, siapa ya yang nanti jadian? (kita tunggu saja). Usai sholat, kami melanjutkan perjalanan lagi kemudian mampir di warung bakso solo di daerah Kademangan. Hmm… lumayan buat ngganjal perut karena sejak siang belum makan.
Selesai dinner, kami pulang. Rahmat nganter satu per satu. Urutan turunnya: Farhan, Adit, Enny, jamilah, Aku, Desinta sampai di perempatan Kawedusan, dan tentunya Rahmat ke rumahnya dan mengistirahatkan mobilnya di garasi. MATUR SUWUN banget buat RAHMAT GUMAWANG dan keluarga. Bayangin aja, udah mobilnya punya dia, terus njemput dan nganterin anak-anak satu per satu (padahal si doi pas gak ikut), habis itu GRATISan lagi. Sering-sering aja yah… Gratis Gratis… Gratis Gratis….  
Selengkapnya...

Imalita Mbolang nyang Pangi (15 Juni 2010)


Elastis, atau lebih tepatnya molor seperti karet, begitulah kebiasaan anak-anak Imalita saat sudah di kampoeng  Blitar Raya tercinta. Kebiasaan ini sangat bertentangan kebiasaan di kampus yang selalu on time saat masuk kuliah, apalagi saat ujian. Tapi ternyata, kebiasaan baik di kampus ini tidak juga di bawa ke kampung halaman, yah begitulah.
Jam  Sembilan pagi, beberapa orang yang kemarin sudah konfirmasi via SMS ke Rahmat, korlak TO 2010 sudah datang dan berkumpul di gerbang sebelah barat SMA tercinta, SMASA Blitar Jaya. Tampak di antara kumpulan orang yang bercakap-cakap saat itu beberapa wajah alumni yang baru lulus tahun 2009 ini. Mas Subhan, dengan tubuhnya yang kekar khas pemain bola, Nampak tersenyum-senyum. Manis senyumnya, bak bulu merak jantan yang memikat merak betina, tapi sayang dia bukan merak dan ini bukan kebun binatang, so gak jadi deh…  Alumnnus yang lain yaitu mbak Ika, kali ini tampil dengan pashmina yang berwana dominan hitam  tampak seperti ibu haji, begitu kata Royan, anak didik Catur Aji lulusan 2009.
Bebrapa menit kemudian, setelah cukup melakukan live chatting, squad Imalita berangkat ke tempat tujuan, yaitu pantai Pangi yang terletak di kecamatan Bakung, di daerah pegunungan kapur selatan kabupaten Blitar. Semua berboncengan. Ilul dengan adit, Zainal dengan Jamilah,… Motor mulai digas, melaju kea rah selatan melewati jalur Kademangan. Jalur yang ditempuh sama dengan jalur menuju tempat wisata pantai Tambak Rejo, hanya saja saat sudah hampir sampai, jalur ke Pangi belok kanan. Di tengah perjalanan antara SMASA  dan Kali Brantas, beberapa orang mampir membeli minuman motor, dan menyahut  Farhan yang ternyata sudah standby di pinggir jalan.  
Jalur ke selatan ini melalui trek pegunungan kapur yang menanjak menaiki bukit dan menuruni lembah-lembah yang curam. Di kiri kanan jalan kita disuguhi pemandangan yang indah. Mulai dari sawah yang berundak, ladang, kebun, ngarai, sampai pemandanagan penggembalaan sapi dan kerbau yang dilepas begitu saja, membuat heran para Imaliters. Perjalanan naik turun gunung ternyata makan waktu hampir satu jam, memakan  tenaga yang banyak dan membuat perut ini keroncongan, yang mengakibatkan badan ini agak lemas. Naik turun bukit perlu keahlian mengendarai motor agar motor tidak terhenti dan kembali menurun. Jalan berkelok-kelok yang dipagari pepohonan dan pemandangan indah melepaskan bundelan-bundelan stess dalam pikiran ini yang telah mengendap, mengkristal bebdrapa minggu karena  menjalani UAS. Semua lepas, menguap, dan menyisakan keasyikan dalam buaian hangatnya kebersamaan. Sayang, kebersamaan ini tidak lengkap karena Imaliters tingkat I tidak ada yang ikut, kecuali Qori, itupun berangkatnya tidak bersamaan dan dia hanya asyik berduaan dengan bawaannya. Tak tahulah mengapa tingkat I ini tidak mau ikut, tidak juga mereka memberi alas an yang jelas dan logis, begitu kata Rahmat yang lagi dekat dengan Ima. Kata Bu Jamilah, ketidakhadiran mereka sangat disayangkan karena sebenarnya acara seperti ini adalah sarana untuk lebih mengompakkan sesame anggota, agar saat ada even atau ada sesuatu yang urgent, sudah tercipta rasa solidaritas yang tinggi antar sesama Imaliters.
Seperempat jam sebelum jalan aspal habis, sudah terlihat laut lautan luas yang biru menghampar. Dari atas bukit terakhir yang didaki,  sudah dapat dilihat laut biru tanpa batas, yaitu samudera Hindia. Jika dilihat dari atas bukit, tampak bahwa laut yang terbentang tersebut seolah-olah melampaui tingginya bukit. Tampak dari kejauhan ombak yang bergulung-gulung sangat tinggi menghempas karang-karang di tepi pantai.
Jalan aspal berakhir setelah  turunan yang curam. Kami sempat berdebat mengenai apakah motor akan dititipkan di parkiran di samping aspal terakhir tadi atau mau dibawa sampai ke pantai. Akhirnya, kami sepakat untuk membawa motor ke pantai. Dan, inilah awl dari tantangan offroad. Jalan yang harus dilewati adalah sebuah lembah dengan tebing  berderajat 45 lebih. Di dasar lembah ada sungai air tawar yang alirannya cukup deras, sungai ini pada akhirnya bercampur dengan air laut membentuk danau muara air payau yang terletak di sebelah timur pantai Pangi. Jalanan yang dilewati sangatlah ekstrim . Jalannya berupa tanah yang agak liat, sangat licin, dan tepat di sampingnya ada jurang yang sangat dalam. Mengendara motor di sini harus ekstra hati-hati karena sangat rawan terpeleset.
Sekitar sepuluh menit menyusuri trek offroad yang begitu menantang ini, tibalah kami di pantai. Subhanllah, sungguh indah pantai ini. Namun sayang, di sana-sini banyak sampah berserakan yang membuat kecantikan pantai ini tidak bisa dinikmati sepenuhnya. Sampai di tujuan, kami segera merasakan alunan ombak yang lembut menyapu jari-jemari kaki kami. Haska, Subhan, Fafa, Kake segera menceburkan diri  ke laut dan berenang-renang seperti berang-berang saja. Yang lain hanya berbasah-basah ria, berlari-lari di tepi pantai, dan tentu saja berfoto-foto ria.
Saat itu air laut sudah mulai pasang, ombak menderu-deru, tingginya sampai dua meter lebih. Kami sempat terlena. Kami menaruh sandal di tempat yang tinggi, namun masih dekat dekat mulut pantai. Saat ombak besar menerjang, tempat menaruh sandal tersebut terhempas ombak, dan raiblah sandal kami. Untungnya, ombak tidak membawa sandal-sandal kami ke tengah laut, namun malah memasukkannya ke genangan air yang menjadi seperti rawa-rawa payau di celah-celah bukit. Kelihatannya airnya dangkal, ternyata dalam sekali setelah diceburi. Akhirnya, sandal-sandal kami bisa diselamatkan semuanya dengan perjuangan super hero Subhan.
Setelah puas menikmati ombak dan berfoto-foto, kami membersihkan diri. Kamar mandi dengan air tawar ada di sebelah barat, di bawah tebing-tebing karang yang indah menjulang. Di sana, kami membersihkan tubuh dari asinnya air laut. Makan sn`ck adalah sebuah kewajiban dalam setiap even yang diadakan oleh Imalita. Ya jelas lah, ini kan salah satu poin yang paling ditunggu oleh Imaliters, yang juga sekaligus untuk mengakrabkan antara satu anggota dengan yang lainnya.
Puas ngobrol sambil menghahabiskan snack, kami bergegas pulang . Tidak lupa membayar parkir, di sana harga tiket parkir Rp2.000,00. Trek offroad dimulai kembali, bebrapa orang sempat gagal mendaki  tanjakan pertama. Ini karena tanjakan nya sangat tajam, lebih dari 45 derajat dan jalannya berbatu, sangat licin. Jika berboncengan, turunkan boncengannya agar bisa melewati trek ini dengan selamat. Perjalanan pulang lebih ringan dari pada perjalanan ke pantai. Pasalnya, lebih banyak turunan dari pada  tanjakan. Namun harus hati-hati, jangan sampai kecepatan terlalu tinggi karena bisa terlepas dari lintasan. 
Di tengah perjalanan, Karena waktu Dhuhur sudah sangat terbatas, kami mampir di masjid Tuliskriyo untuk sholat dan beristirahat sejenak. Tapi, ada suatu kabar yang memicu solidaritas Imaliters. Aditya Akhmadi, Imaliters dari Sananwetan mendapat kabar dari pak Yosep, dosen pajaknya, yang menyatakan bahwa Senin , 22 Maret 2010 dia harus sudah sampai di Jakarta untuk mengikuti remedial mata kuliah Perpajakan II. Semangat Kawan, kami mendukungmu!
Perjalanan dimulai kembali walau Adit kini tidak bisa mengikuti next destination, yang juga the last destionation, yaitu bakso gangsar selatan terminal. Sembari mengintip pagar KPP yang mungkin menjadi tempat kerja kami nanti, kami menikmati hidangan bakso dan es degan yang sangat lezat dan tambah lezat lagi karena gratisan. Susana hangatnya kebersamaan tercipta di tengah keasyikan ini. Emang, suasana dalam dunia Imaliters akan cepat cair saat makan-makan. Dasar kemalan badhokan, he.. Makan- makan ini adalah acara penutup dari kegiatan Imalita goes to pangi. Harapannya, kebersamaan ini akan tetap terpelihara sampai kapan pun juga, terutama saat sudah menjadi pejabat nanti. (Z@1N4L) 
Selengkapnya...

IMALITA Goes to DOKO

Senin, 29 Maret 2009, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Imalita mengadakan tour ke Kec. Doko. Jam Sembilan pagi, perjalanan menuju daerah sejuk di sisi timur laut Blitar itu dimulai. Lagi-lagi SMA 1 blitar menjadi tempat berkumpul bagi kami sebelum memulai perjalanan. Empat orang berangkat dari Smasa, kemudian mampir sebentar ke Dinas Pendidikan Blitar yang ada di Pojok, Garum. Sebenarnya lokasi diknas tersebut tidak jauh dari kediaman salah seorang Imaliters yang berjuluk Ima, tapi sayang dia tidak mengikuti acara tour kali ini. Saat ditanya, jawabannya seribu satu macam alas an. Tapi yang jelas, pasti ini karena soulmatenya tidak bisa ikut kali ini, krena sedang mengikuti olimpiade PTK. Siapa Dia? Siapa lagi kalau bukan xxxxx. Pasti tahu jawabannya.
Dalam tour kali ini, kami menyewa guide, the only one guide yang telah berpengalaman dan telah menyusuri seluk beluk Doko city. Dia menunggu di dekat Masjid Raya Wlingi. Setelah bertemu di jalan, kami meneruskan perjalanan. Namun, perjalanan kami hentikan for a while karena menunggu lek wulan, imaliters Kesamben yang saat itu sedang menjalani operasi cantengan di Puskesmas Kesamben. Setelah ditunggu beberapa lama namun tak Nampak jua, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah berbelok dari jalur utama Blitar Malang, kami langsung disuguhi pemandangan pegunungan yang eksotis sekaligus menantang. Lekak-lekuk tebing dan lereng yang curam berlantaikan permadani hijau menghampar, menyejukkan mata kami yang mungkin lelah menatap layar monitor, lelah membaca buku, maupun lelah menonton yang lain-lain gitu...  Namun, dapt dikatakn bahwa kontur jalan di daerah Doko ini jauh lebih nyaman dan aman dilewati dari pada jalanan di daerah pegunungan Kapur Selatan dengan pemandangan yang tak kalah indahnya.
Beberapa menit menyusuri jalanan dengan nuansa Puncak ala Blitar, tibalah kami di tempat tujuan utama, DALEME NING SISKA. Di situ, beberapa celotehan dengan nada mengejek sempat terlontar dari akmi. Denagn gesit pula tuan rumah menimpali celatuan kami. Semua itu mencairkan suasana yang beku, aedingin udara Doko. Tap sayang, saat itu Gus Imam kayaknya jaim banget, tidak mau mengeluarkan statemen papun. Sok cool gitu… Ah, Imaliters mesti udah pada paham maksud dan tujuan sikapnya tersebut.
Beberapa jam kami mengobrol di sana sembari menikmati hidangan, sms dari lek Wulan akhirnya dating. Ning Siska menyarankan agar lek Wulan naik bis dari Kesamben dan minta turun di Ojekan POPoh. Baru denger?? Sama. He.. He.. Ilul, sebagai orang terdekatnya kali ini bertugas menjemput leknya di Ojekan Popoh, sesuai dengan instreuksi dari sohibul bait. Beberapa menit kemudian, datanglah mereka dengan senyuman- senyuman khas ndeso. Lek Wulan tampak agak kesakitan, dengan perban di jempol kaki kirinya bekas operasi yang baru dijalaninya.
Puas ngobrol, kami hendak pamit untuk melanjutkan perjalanan. Eh, tiba-tiba ning Sika menginstruksikan kami untuk makan, katanya ini adalah masakannya sendiri. Dengan sedikit malu-malu mau, kami menuju ruang tengan rumah keluarga ning Siska yang bergaya semi Eropa, cocok untuk bersantai. Menunya bermacam-macam, ala prasmana saja. Ada sayur rebung, sayur lele, urap ( bahasa orang jakarte) atau Kulupan ( Bahasa Mblitar), soto. Minumannya es caon. Nikmat, seger… Memang Ning Siska ini jago masak. Beruntung sekali ikhwan yang akan menjadi IMAMnya.
Kenyang meyantap makan siang special, kami menunaikan ibadah sholat Dhuhur. Cewek-cewek sholat di mushola rumah ning Siska, sedangkan Cowok-cowok sholat di mushola dekat rumahnya. Sholat Dhuhur dilakukan dengan khusuk dan penuh ketenangan, setenang keadaan sekitar. ( Entah tenang atau sepi, kami juga tak tahu? He… )
Selesai sholat, kami hendak melanjutkan perjalanan tour ke kebun cengkih, kebun salak, kebun the, dll. Namun sayang, mendung yang telah berjajar di langit sejak beberapa jam lalu sudah tidak kuat lagi menahan partikel air yang dikandungnya, sehingga jatuhlah air-air itu sebagai hujan. Mau tidak mau kami harus pending sebentar. Motor diparkirkan di rumah depan. Sementara itu, kami masuk ke rumah dan menikmati kembali sisa-sisa hidangan yang masih ada. Eh, tidak disangka, ternyata dari ruang tengah keluar Ibu ning Siska membawa sekeranjang buah rambutan yang baru dipetik. Hmm.. segar nampaknya. Kami menikmati hidangan tersebut semabri menunggu hujan reda.
Dinilai reda, kami segarta keluar rumah untuk bergegas menuju ke tempat tujuan semula. Kami sekalian berpamitan kepada bapak ibu ning Siska. Rambutan yang masih kami cicipi beberapa buah tadi dibawakan juga. Ning Wulan yang dipasrahi gak-agak menolak, tapi ternyata mau juga membawanya. Motor dikeluarkan, eh ternyata hujan lagi. Gerimis, meskipun tidak terlalu deras. Sebenarnya kami ingin mberteduh kembali, tapi kami malu karena sudah terlanjur berpamitan de ngan orang tuanya. Dengan tekad bulat, lanjutkan perjalanan.
Ternyata emang nasib. Belum jauh kami melangkah, hjan semakin deras sehingga memaksa kami untuk berteduh di sebuah emperan toko. Beberap menit kemudian, kami melanjutkan pejalanan. Sialnya, hujanturaun dan semakin deras. Kami bertedu kembali. Sebagian di pinggir jalan, di tempat kios didepan KUA Doko. Sebagian lagi berteduh di depan kantor camat Doko. Yang berteduh di depan KUA akhirnya pindah pula ke KUA , tepatnya di musholla KUA gara-gara jamilah kebelet pipis. Tapi akhirnya, semua juga berteduh di KUA sekaligus sholat Ashar.
Jam setengah empat lebih, hujan benar-benar reda dan langit pun teranglah. Kami memutuskan untuk menuju ke kebun cegkih. Unfortunately, motor yang dikendarai Ilul bocor bannya. Mau tidaka mau kami harus menunggu proses tambal ban. Setelah selesai, kami lanjutkan kembali perjalanan ke kebun cengkih. Pemandangan indah selalu menjadi suguhan kami.
Sampai di kebun cengkih, jiwa-jiwa narcis langsung melompat, mengekspresikan gaya masing-masing. Sayangnya, tidak ada kamer yang dibawa. Hanya ada kamera HP Wildan dan Imam. Tapi tak apalah, yang penting sudah ada dokumentasinya, walaupun minim sekali. Puas berfose, kami harus segera turun karena sudah sore, takut keburu gelap.
Eh, ternyata emang dasar anak imalita yang suka keluyuran. Acara sehari ini belum afdal bila belum disclosing dengan makan-makan. Kali ini kami mengikuti rekomendasi dari ning Siska untuk mencoba bakso di Pandean, Wlingi. Jalan menuju tujuan tidaklah semudah yang kami lewati sebelumnya. Meskipun jalannya adalah jalan yang sama, kini kami harus ekstra hati-hati karena jalan yang kami lalui kini terkena longsoran tanah di tepi tebing, dan sebagian jalan juga amblas karena longsor ke bawah. Beberapa petugas kepolisian dibantu warga tampak mengeruk sisa-sisa longsoran. Hi, ngeri.
Setelah beberapa menit perjalanan menyusuri eksotika alam nan indah dengan suasana setelah hujan yang dingin mencekam, tibalah kami di warung bakso tujuan.  Tepatnya di sebelah barat pertigaan jalur alternative ke Malang. Sedap dan enak, ditambah segelas the hangat mampu mengusir dingin yang merasuk di tubuh, yang hamper mati membeku. Santapan bakso berakhir dan akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing. Sebelumnya kami mengantarkan ning Wulan ke tempat pemberhentian.
Selengkapnya...